oleh Gede Prama
Pertama, mereka yang menjadi pedagang kehidupan dan pedagang doa. jangankan dengan Tuhan dengan siapa saja ia berdagang, kalau permohonan tercapai, maka Tuhan berwajah baik. Kalau tidak dipenuhi, apalagi dihadang bencana, Tuhan disebut marah. Dalam pandangan kelompok ini, bencana tidak lain hanya tuhan yang murka kepada ulah manusia. Tidak salah tentunya karena ini merupakan proses pertumbuhan
Kelompok kedua, adalah percinta tingkat remaja. Ciri kelompok ini adalah rasa memiliki yang tinggi. Tidak boleh ada orang lain, hanya dia yang boleh dekat dan dicintai oleh Tuhan. Cinta bagi kelompok ini tidak ada pilihan lain, kecuali menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Tidak boleh ada ekspresi dari cinta Tuhan selain menyayangi, memaafkan dan membebaskan. Begitu ada wajah cinta yang lain (lebih-lebih berwajah bencana), maka mudah ditebak kemana kehidupan bergerak: benci tapi rindu!. ini asal muasal pertanyaan sejumlah sahabat yang luka ketika bencana, kemudian bertanya. Tuhan, masihkah engkau menyayangiku?
Kelompok ketiga adalah kelompok pecinta tingkat dewasa. Cinta tidak lagi diikuti kebencian. Cinta adalah cinta. Ia tidak berlawankan kebencian. Lebih dari itu berbeda dengan kelompok kedua yang menempatkan dicintai lebih indah dari pada mencintai, pada tingkat ini terbalik, mencintai lebih indah dibandingkan mencintai. Karena itu, bencana, yang sudan mencapai tingkatan ini tidak di tempatkan sebagai hukuman, melainkan masukan tentang seg-segi di dalam diri yang perlu diperbaiki. Dengan kata lain bencana adalah vitamin bagi pertumbuhan jiwa.
Kelompok keempat adalah jiwa yang tidak lagi mencari apa-apa. Bukan karena marah apalagi frustasi. Sekali lagi bukan. Namun, karena melalui rasa berkecukupan, iklas dan bersyukur yang mendalam kemudian dibimbing, kalau semua sudah sempurna. Bukankah sakit yang mengajari menghargai kesehatan secara baik? sukses sempurna, gagal sempurna. Bukankah kegagalan membawa kita pada puncak tahu diri? Kehidupan sempurna, kematian sempurna. Bukankan kematian adalah mitra makna kehidupan yang membukakan pegertian kehidupan yang jauh lebih dalam? Kaya sempurna miskin juga sempurna. Bahkan kemiskinan adalah pendidikan yang tidak sombong dan senantisa rendah hati? Dengan demikian, dalam jiwa-jiwa yang sudah sampai disini tidak ada kamus bencana. Apapun yang terjadi diberi judul sama, sempurna.
Selasa, 26 Mei 2009
Minggu, 24 Mei 2009
Tentang Keimanan analisis dengan hukum gaya
Rasulullah bersabda “Al imanu yazid wa yankus”. Iman itu naik dan turun. Layaknya keimanan manusia yang naik dan turun, pada semangat pun dapat terjadi hal tersebut.
Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.
Merupakan hal yang sangat maklum ketika kita duduk di suatu majelis ilmu mendengarkan ceramah atau kajian dari sang ustadz kemudian hati kita menjadi “sangat” bersemangat. Setelah bangkit dari majelis kita akan ‘berencana’ menjalankan kebaikan disetiap detik kehidupan dan menjauhi atau menghancurkan segala bentuk kemaksiatan dan keburukan sebelum ajal menghadang. Tapi setelah beberapa menit setelah bangkit …(Selanjutnya terserah anda) yang pasti, hampir semua dari kita sering mendapati penurunan motivasi bahkan amal (ilmu yes, amal not yet)
Tapi jangan salah lho walaupun baru rencana, itu merupakan indikasi bahwa hati kita masih dalam kondisi ‘iman’, sebab salah satu ciri manusia beriman adalah jika disiram ilmu maka akan bertambah faham dan semakin yakin.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (QS.08 : 2)
Seorang pelari marathon mempunyai satu tujuan. Sampai di pita finish dan memenangi pertandingan. Pelari yang professional mempunyai teori dalam memanage staminanya, sangat mungkin pada kilometer pertama bukanlah yang terdepan tetapi menginjak step-step terakhir akan mengeluarkan semua kemampuan untuk berlari menjadi nomor satu dan mempertahankannya dari peserta lain.
Begitu juga bagi seorang mahasiswa. Dia sangat yakin bahwa belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sia-sia. Belajar dengan rutin, mendengarkan kuliah dengan serius dan berani bertanya sampai benar-benar faham merupakan modal yang sudah cukup dalam menghadapi soal-soal ujian (kecuali jika pengin lebih).
Trus apakah ilustrasi tersebut sama dengan pemeliharaan ‘Iman’ yang ada dalam diri kita? Yup! Betul hampir sama. Satu hal yang membedakan adalah adanya misteri datangnya kematian. Berbeda dengan pelari dan mahasiswa tadi, karena garis finish dan ujian merupakan hal yang pasti dan terukur.
Untuk memelihara atau menjaga stamina iman menuju kehidupan sesudah mati (syurga) kayaknya perlu bantuan sebuah rumus fisika.
Dimana :
W = adalah beban hidup
P = daya dorong
Fs = gaya gesek
Bola merupakan lambang kehidupan yang berjalan terus/menggelinding tapa henti sampai titik kematian (misteri) . Tidak dapat mundur tapi sangat mungkin untuk berbelok menjauhi jalan yang lurus.
Dalam menjaga stamina iman, ada beberapa kaidah yang harus difahami :
1. Semua manusia mempunyai potensi untuk “salah”. Maka Allah memberi penghargaan kepadanya dengan aturan “sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah bertobat dan memperbaiki diri”. Dan sejelek-jelek manusia yang bersalah adalah … (tahu sendiri khan!). Silahkan baca QS. 25:70.
2. Semua manusia berpotensi untuk bosan dan jenuh (futur). Maka kenali ciri-ciri kondisi futur, macam penyebabnya dan cara-cara untuk memperbaikinya.
3. Hati manusia berkarakter ‘berubah-ubah’. So, bagaimana kita bisa mengkondisikan agar selalu lebih banyak berpihak dalam kebaikan. Salah satunya hadir di taman-taman ilmu dan memilih lingkungan yang sholeh. Jangan lupa! Selalu berdoa diberi ketetapan hati (minimal sesudah dzikir shalat)
Yup, sekarang mari kita bahas rumus diatas
Dari gambar terlihat jelas bahwa ’bola’ kehidupan kita akan didorong oleh Daya dorong (P). Logikanya semakin kuat daya dorong maka akan semakin kuat dalam keimanan (tidak berbelok ke arah yang salah) dalam mengarungi hidup sampai mati.
Kekuatan daya dorong keimanan yang ada dalam diri kita sangat tergantung dari ilmu dan amalan ibadah yang dimiliki dan yang sudah diamalkan. Perbanyaklah ilmu dan perbanyaklah ibadah (tidak hanya yang wajib saja) maka kekuatan dalam menjalani hidup sesuai perintah Allah & Rosul-Nya semakin kuat. Bukankah Iman akan naik dengan perbuatan ’baik’ dan turun karena berbuat ’maksiyat’?
W adalah Beban Hidup. Sering kali terjadi, seseorang yang terkenal alim (baca:sholeh) tapi dalam suatu waktu terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Hmm, mungkin inilah salah satu contoh bagaimana beban hidup (tuntutan kebutuhan duniawi) membuat laju keimanan menjadi berbelok.
Semua manusia mempunyai beban hidup dan tingkatnyapun berbeda-beda. Hanya Allah SWT yang tahu beban yang akan diberikan makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa mengira-ngira dengan berpikir positif. Bukankah Allah SWT tidak akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … (QS.02:286)
Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah : kadang-kadang kita menjadi terbebani suatu hal karena keinginan kita yang tidak terukur. Tahun ini harus punya mobil? Harus punya rumah? Harus punya begini atau seperti harus begono..padahal kita tidak cukup mampu dan belum merupakan hal primer atau bukan pendukung ibadah. So ketika ada tawaran untuk bermaksiyat atau tidak jujur, kita menjadi tergoda (terperosok) karena tidak sabar alias pengin jalan pintas saja.
Singkatnya, beban hidup akan selalu ada. Kita harus yakin bisa mengatasinya, agar jalan hidup kebaikan tetap lurus.
Fs adalah gaya gesek. Gesekan akan selalu terjadi dalam hidup baik dari internal (hawa nafsu keburukan) atau eksternal (lingkungan). Pertentangan antara mengamalkan kebaikan dan menuruti keinginan nafsu pribadi atau pengaruh lingkungan akan selalu ada. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika kondisi internal (hawa nafsu kejelekan) cocok dengan eksternal (lingkungan yang jahat).
Tips yang utama adalah giat melakukan ibadah, menjaga diri dari pandangan/kegiatan maksiyat, tetap mencari ilmu, mengkondisikan lingkungan/ keluarga untuk mendukung ibadah kita semua dan tetap berdoa kepada Allah SWT. Bagi yang tidak beruntung karena berada di lingkungan yang tidak jujur atau penuh maksiyat silahkan bersiap diri untuk berani peduli menegur, jangan asal ’pokoknyasaya tidak’. Bersiaplah berhijrah jika memang diperlukan sebelum Allah memberikan azab yang menimpa kepada semua.
Memang, semangat dan keimanan memiliki suatu hubungan yang dekat. Seseorang yang sedang turun keimanannya pasti akan turun pula semangatnya untuk beribadah, belajar, ataupun segala macam perbuatan yang baik dan bermanfaat. Begitu pula sebaliknya.
Merupakan hal yang sangat maklum ketika kita duduk di suatu majelis ilmu mendengarkan ceramah atau kajian dari sang ustadz kemudian hati kita menjadi “sangat” bersemangat. Setelah bangkit dari majelis kita akan ‘berencana’ menjalankan kebaikan disetiap detik kehidupan dan menjauhi atau menghancurkan segala bentuk kemaksiatan dan keburukan sebelum ajal menghadang. Tapi setelah beberapa menit setelah bangkit …(Selanjutnya terserah anda) yang pasti, hampir semua dari kita sering mendapati penurunan motivasi bahkan amal (ilmu yes, amal not yet)
Tapi jangan salah lho walaupun baru rencana, itu merupakan indikasi bahwa hati kita masih dalam kondisi ‘iman’, sebab salah satu ciri manusia beriman adalah jika disiram ilmu maka akan bertambah faham dan semakin yakin.
Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gemetarlah hati mereka, dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambahlah iman mereka (karenanya) dan kepada Tuhan-lah mereka bertawakal, (QS.08 : 2)
Seorang pelari marathon mempunyai satu tujuan. Sampai di pita finish dan memenangi pertandingan. Pelari yang professional mempunyai teori dalam memanage staminanya, sangat mungkin pada kilometer pertama bukanlah yang terdepan tetapi menginjak step-step terakhir akan mengeluarkan semua kemampuan untuk berlari menjadi nomor satu dan mempertahankannya dari peserta lain.
Begitu juga bagi seorang mahasiswa. Dia sangat yakin bahwa belajar dengan SKS (Sistem Kebut Semalam) adalah sia-sia. Belajar dengan rutin, mendengarkan kuliah dengan serius dan berani bertanya sampai benar-benar faham merupakan modal yang sudah cukup dalam menghadapi soal-soal ujian (kecuali jika pengin lebih).
Trus apakah ilustrasi tersebut sama dengan pemeliharaan ‘Iman’ yang ada dalam diri kita? Yup! Betul hampir sama. Satu hal yang membedakan adalah adanya misteri datangnya kematian. Berbeda dengan pelari dan mahasiswa tadi, karena garis finish dan ujian merupakan hal yang pasti dan terukur.
Untuk memelihara atau menjaga stamina iman menuju kehidupan sesudah mati (syurga) kayaknya perlu bantuan sebuah rumus fisika.
Dimana :
W = adalah beban hidup
P = daya dorong
Fs = gaya gesek
Bola merupakan lambang kehidupan yang berjalan terus/menggelinding tapa henti sampai titik kematian (misteri) . Tidak dapat mundur tapi sangat mungkin untuk berbelok menjauhi jalan yang lurus.
Dalam menjaga stamina iman, ada beberapa kaidah yang harus difahami :
1. Semua manusia mempunyai potensi untuk “salah”. Maka Allah memberi penghargaan kepadanya dengan aturan “sebaik-baik orang yang berlaku salah adalah bertobat dan memperbaiki diri”. Dan sejelek-jelek manusia yang bersalah adalah … (tahu sendiri khan!). Silahkan baca QS. 25:70.
2. Semua manusia berpotensi untuk bosan dan jenuh (futur). Maka kenali ciri-ciri kondisi futur, macam penyebabnya dan cara-cara untuk memperbaikinya.
3. Hati manusia berkarakter ‘berubah-ubah’. So, bagaimana kita bisa mengkondisikan agar selalu lebih banyak berpihak dalam kebaikan. Salah satunya hadir di taman-taman ilmu dan memilih lingkungan yang sholeh. Jangan lupa! Selalu berdoa diberi ketetapan hati (minimal sesudah dzikir shalat)
Yup, sekarang mari kita bahas rumus diatas
Dari gambar terlihat jelas bahwa ’bola’ kehidupan kita akan didorong oleh Daya dorong (P). Logikanya semakin kuat daya dorong maka akan semakin kuat dalam keimanan (tidak berbelok ke arah yang salah) dalam mengarungi hidup sampai mati.
Kekuatan daya dorong keimanan yang ada dalam diri kita sangat tergantung dari ilmu dan amalan ibadah yang dimiliki dan yang sudah diamalkan. Perbanyaklah ilmu dan perbanyaklah ibadah (tidak hanya yang wajib saja) maka kekuatan dalam menjalani hidup sesuai perintah Allah & Rosul-Nya semakin kuat. Bukankah Iman akan naik dengan perbuatan ’baik’ dan turun karena berbuat ’maksiyat’?
W adalah Beban Hidup. Sering kali terjadi, seseorang yang terkenal alim (baca:sholeh) tapi dalam suatu waktu terbukti melakukan korupsi atau kecurangan. Hmm, mungkin inilah salah satu contoh bagaimana beban hidup (tuntutan kebutuhan duniawi) membuat laju keimanan menjadi berbelok.
Semua manusia mempunyai beban hidup dan tingkatnyapun berbeda-beda. Hanya Allah SWT yang tahu beban yang akan diberikan makhluk ciptaan-Nya, kita hanya bisa mengira-ngira dengan berpikir positif. Bukankah Allah SWT tidak akan memberikan ujian sesuai kemampuan hamba-Nya?
Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya … (QS.02:286)
Satu hal yang perlu digaris bawahi adalah : kadang-kadang kita menjadi terbebani suatu hal karena keinginan kita yang tidak terukur. Tahun ini harus punya mobil? Harus punya rumah? Harus punya begini atau seperti harus begono..padahal kita tidak cukup mampu dan belum merupakan hal primer atau bukan pendukung ibadah. So ketika ada tawaran untuk bermaksiyat atau tidak jujur, kita menjadi tergoda (terperosok) karena tidak sabar alias pengin jalan pintas saja.
Singkatnya, beban hidup akan selalu ada. Kita harus yakin bisa mengatasinya, agar jalan hidup kebaikan tetap lurus.
Fs adalah gaya gesek. Gesekan akan selalu terjadi dalam hidup baik dari internal (hawa nafsu keburukan) atau eksternal (lingkungan). Pertentangan antara mengamalkan kebaikan dan menuruti keinginan nafsu pribadi atau pengaruh lingkungan akan selalu ada. Kondisi yang mengkhawatirkan adalah ketika kondisi internal (hawa nafsu kejelekan) cocok dengan eksternal (lingkungan yang jahat).
Tips yang utama adalah giat melakukan ibadah, menjaga diri dari pandangan/kegiatan maksiyat, tetap mencari ilmu, mengkondisikan lingkungan/ keluarga untuk mendukung ibadah kita semua dan tetap berdoa kepada Allah SWT. Bagi yang tidak beruntung karena berada di lingkungan yang tidak jujur atau penuh maksiyat silahkan bersiap diri untuk berani peduli menegur, jangan asal ’pokoknyasaya tidak’. Bersiaplah berhijrah jika memang diperlukan sebelum Allah memberikan azab yang menimpa kepada semua.
Isolasi DNA buah pisang
METHODE ISOLASI DNA
Metode yang digunakan untuk mengisolasi DNA dari berbagai jenis tanaman, organ tanaman, maupun jaringannya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun pada intinya terdapat tiga faktor utama yang sangat penting untuk dalam melakukan purifikasi dan ekstraksi DNA secara maksimal. Pertama adalah cara dalam menghomogenkan jaringan tanaman khususnya adalah dinding selnya. Kedua adalah komposisi dari larutan buffer yang ditambahkan dalam penggerusan jaringan tanaman dan yang ketiga adalah penghilangan enzim penghambat-polisakarida.
Tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan DNA tanaman pisang adalah penggerusan atau homogenasi daun pisang dengan penambahan nitrogen cair. Fungsinya adalah untuk mempermudah penggerusan dan menjaga agar DNA tidak mengalami kerusakan. Hal ini dilakukan sampai didapatkan daun tanaman pisang yang telah hancur. Selanjutnya dilakukan penambahan buffer ekstrak yang berfungsi untuk melisiskan membran sel dan membran fosfolipid bilayer, atau dalam praktikum kali ini hanya menggunakan nitrogen cair karena memiliki fungsi yang sama dengan bufer ekstrak.
Kemudian dilakukan inkubasi sampel dalam water bath bersuhu 60 derajat C selama 60 menit. Hal ini dilakukan untuk optimalisasi kerja buffer ekstrak. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi sampel dengan kecepatan 10000 rpm selama 10 menit dalam suhu 4 derajat C. hal ini dilakukan untuk memisahkan debris dan komponen sel lain yang menjadi pengotor dengan DNA. Hasilnya didapatkan bahwa supernatan berwarna hijau sedangkan pelet berwarna putih kehijauan.
Supernatan yang telah diperoleh selanjutnya diambil dan ditambahkan dengan larutan Phenol:Chloroform:Isolamyl Alkohol (PCI). Hal ini dilakukan untuk mengekstraksi DNA dari kontaminan. Fenol merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan protein, lipid dan molekul lain sepergi polisakarida sehingga diharapkan akan didapatkan supernatan yang berisi DNA bebas kontaminan. Setelah pencampuran, homogenat tersebut divorteks untuk optimalisasi homogenasi.
Selanjutnya dilakukan sentrofugasi homogenat dengan PCI tersebut dengan kecepatan 10000 rpm selama 10 menit dalam suhu 4 derajat C. hasil yang didapatkan adalah supernatan dan pelet yang berada pada tiga lapisan lapisan atas berwarna hijau jernih, lapisan tengah berwarna hijau keruh dan pelet yang berwarna hijau tua. Kemudian diambil supernatan pada lapisan paling atas dan ditambahkan larutan Chloroform:Isoamyl Alkohol untuk presipitasi lanjutan. Kemudian kembali dilakukan vorteks dan sentrifugasi.
Untuk memperoleh DNA dari daun tanaman pisang, diperlukan bahan seperti nitrogen cair atau buffer ekstrak (2%CTAB, 100 mM Tris-HCl (pH:8), 20 mM EDTA, 14 M NaCl) steril, Fenol: Chloroform: IsoamylAlkohol (PCI) = 25: 24: 1; Chloroform: Isoamilalkohol (PCI) = 24 : 1, 7.5 M Ammonium acetate,Etanol Absolut, Etanol 70 %, TE Buffer pH 8. EDTA merupakan agen pengkelat yang dapat mengikat ion-ion logam atau ion-ion bermuatan di-positif seperti Ca2+ dan Mg2+ sehingga komponen-komponen di membran terluar sel akan terurai dengan terikatnya molekul yang biasanya mengikat.
Pada prosedur ekstraksi yang telah dilakukan ini digunakan fenol-kloroform yang berfungsi sebagai pendenaturasi protein. Sedangkan DNA dan RNA tidak terdenaturasi karena molekul ini tidak larut didalam pelarut organik seperti fenol-kloroform. Selanjutnya dilakukan presipitasi DNA dengan menggunakan etanol. Hal ini berfungsi sebagai penghilang fenol-kloroform. Sebab apabila fenol-kloroform masih berada di dalam sampel maka dikhawatirkan akan menghambat kerja enzim-enzim restriksi atau enzim lain yang digunakan untuk analisis molekuler.
Hasil yang didapatkan dari presipitasi CI akan terbentuk kembali supernatan dan pelet pada eppendorf, kemudian dilakukan pengambilan supernatan. Supernatan ditambahkan dengan amonium nitrat dan etanol absolut untuk presipitasi lanjutan dan menghilangkan kontaminan. Hasilnya diketahui terbentuk filamen-filamen DNA dalam larutan jernih tersebut. Kemudian dilakukan inkubasi selama satu malam untuk optimalisasi presipitasi.
CTAB memiliki fungsi yang sama seperti SDS, yaitu berfungsi sebagai pelarut lipid dari membran sel. SDS adalah sejenis deterjen yang mampu mengemulsi lipid.
Setelah inkubasi selama semalam dengan etanol absolut dan amonium nitrat dan diketahui filamen DNA selanjutnya dilakukan sentrifugasi kembali untuk mendapatkan pelet DNA. Setelah supernatan dibuang, selanjutnya ditambahkan etanol 70% untuk presipitasi lanjutan. Kemudian dilakukan sentrifugasi sampai didapatkan pelet DNA
Pelet DNA yang didapatkan kemudian dikering anginkan
Metode yang digunakan untuk mengisolasi DNA dari berbagai jenis tanaman, organ tanaman, maupun jaringannya dapat dilakukan dengan berbagai cara. Namun pada intinya terdapat tiga faktor utama yang sangat penting untuk dalam melakukan purifikasi dan ekstraksi DNA secara maksimal. Pertama adalah cara dalam menghomogenkan jaringan tanaman khususnya adalah dinding selnya. Kedua adalah komposisi dari larutan buffer yang ditambahkan dalam penggerusan jaringan tanaman dan yang ketiga adalah penghilangan enzim penghambat-polisakarida.
Tahapan yang dilakukan untuk mendapatkan DNA tanaman pisang adalah penggerusan atau homogenasi daun pisang dengan penambahan nitrogen cair. Fungsinya adalah untuk mempermudah penggerusan dan menjaga agar DNA tidak mengalami kerusakan. Hal ini dilakukan sampai didapatkan daun tanaman pisang yang telah hancur. Selanjutnya dilakukan penambahan buffer ekstrak yang berfungsi untuk melisiskan membran sel dan membran fosfolipid bilayer, atau dalam praktikum kali ini hanya menggunakan nitrogen cair karena memiliki fungsi yang sama dengan bufer ekstrak.
Kemudian dilakukan inkubasi sampel dalam water bath bersuhu 60 derajat C selama 60 menit. Hal ini dilakukan untuk optimalisasi kerja buffer ekstrak. Selanjutnya dilakukan sentrifugasi sampel dengan kecepatan 10000 rpm selama 10 menit dalam suhu 4 derajat C. hal ini dilakukan untuk memisahkan debris dan komponen sel lain yang menjadi pengotor dengan DNA. Hasilnya didapatkan bahwa supernatan berwarna hijau sedangkan pelet berwarna putih kehijauan.
Supernatan yang telah diperoleh selanjutnya diambil dan ditambahkan dengan larutan Phenol:Chloroform:Isolamyl Alkohol (PCI). Hal ini dilakukan untuk mengekstraksi DNA dari kontaminan. Fenol merupakan pelarut organik yang dapat melarutkan protein, lipid dan molekul lain sepergi polisakarida sehingga diharapkan akan didapatkan supernatan yang berisi DNA bebas kontaminan. Setelah pencampuran, homogenat tersebut divorteks untuk optimalisasi homogenasi.
Selanjutnya dilakukan sentrofugasi homogenat dengan PCI tersebut dengan kecepatan 10000 rpm selama 10 menit dalam suhu 4 derajat C. hasil yang didapatkan adalah supernatan dan pelet yang berada pada tiga lapisan lapisan atas berwarna hijau jernih, lapisan tengah berwarna hijau keruh dan pelet yang berwarna hijau tua. Kemudian diambil supernatan pada lapisan paling atas dan ditambahkan larutan Chloroform:Isoamyl Alkohol untuk presipitasi lanjutan. Kemudian kembali dilakukan vorteks dan sentrifugasi.
Untuk memperoleh DNA dari daun tanaman pisang, diperlukan bahan seperti nitrogen cair atau buffer ekstrak (2%CTAB, 100 mM Tris-HCl (pH:8), 20 mM EDTA, 14 M NaCl) steril, Fenol: Chloroform: IsoamylAlkohol (PCI) = 25: 24: 1; Chloroform: Isoamilalkohol (PCI) = 24 : 1, 7.5 M Ammonium acetate,Etanol Absolut, Etanol 70 %, TE Buffer pH 8. EDTA merupakan agen pengkelat yang dapat mengikat ion-ion logam atau ion-ion bermuatan di-positif seperti Ca2+ dan Mg2+ sehingga komponen-komponen di membran terluar sel akan terurai dengan terikatnya molekul yang biasanya mengikat.
Pada prosedur ekstraksi yang telah dilakukan ini digunakan fenol-kloroform yang berfungsi sebagai pendenaturasi protein. Sedangkan DNA dan RNA tidak terdenaturasi karena molekul ini tidak larut didalam pelarut organik seperti fenol-kloroform. Selanjutnya dilakukan presipitasi DNA dengan menggunakan etanol. Hal ini berfungsi sebagai penghilang fenol-kloroform. Sebab apabila fenol-kloroform masih berada di dalam sampel maka dikhawatirkan akan menghambat kerja enzim-enzim restriksi atau enzim lain yang digunakan untuk analisis molekuler.
Hasil yang didapatkan dari presipitasi CI akan terbentuk kembali supernatan dan pelet pada eppendorf, kemudian dilakukan pengambilan supernatan. Supernatan ditambahkan dengan amonium nitrat dan etanol absolut untuk presipitasi lanjutan dan menghilangkan kontaminan. Hasilnya diketahui terbentuk filamen-filamen DNA dalam larutan jernih tersebut. Kemudian dilakukan inkubasi selama satu malam untuk optimalisasi presipitasi.
CTAB memiliki fungsi yang sama seperti SDS, yaitu berfungsi sebagai pelarut lipid dari membran sel. SDS adalah sejenis deterjen yang mampu mengemulsi lipid.
Setelah inkubasi selama semalam dengan etanol absolut dan amonium nitrat dan diketahui filamen DNA selanjutnya dilakukan sentrifugasi kembali untuk mendapatkan pelet DNA. Setelah supernatan dibuang, selanjutnya ditambahkan etanol 70% untuk presipitasi lanjutan. Kemudian dilakukan sentrifugasi sampai didapatkan pelet DNA
Pelet DNA yang didapatkan kemudian dikering anginkan
Indahnya Kebersamaan dalam berbagi ilmu dan amal
Assalamu'alaikum wr. wb.
"Orang yang bermanfaat adalah Orang yang bisa manfaat buat dirinya, keluarganya dan orang lain" dalam blog ini saya mencoba untuk berbagi informasi baik masalah ilmiyah atau berita, bagi kawan-kawan pembaca silahkan mengomentari atau menambahkan beberapa artikel dan lainnya yang sekiranya bisa manfaat buat kita semua, yang tidak berhubungan dengan sara, pornografi dan yang melanggar etika kesusilaan
"Orang yang bermanfaat adalah Orang yang bisa manfaat buat dirinya, keluarganya dan orang lain" dalam blog ini saya mencoba untuk berbagi informasi baik masalah ilmiyah atau berita, bagi kawan-kawan pembaca silahkan mengomentari atau menambahkan beberapa artikel dan lainnya yang sekiranya bisa manfaat buat kita semua, yang tidak berhubungan dengan sara, pornografi dan yang melanggar etika kesusilaan
Langganan:
Postingan (Atom)

